Sabtu, 15 Oktober 2011

MENGIDENTIFIKASI JENIS HAMA IKAN


A. PENDAHULUAN
Indonesia adalah Negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau kurang lebih 17.000-an pulau besar dan kecil, juga memiliki panjang pantai terpanjang kedua di dunia, yang mencapai kurang lebih 81.000 km. sebagai Negara kepulauan yang dikelilingi oleh laut, Indonesia mempunyai sumber daya laut yang besar, baik sumber daya hayati maupun non hayati.
Selain laut yang luas Indonesia juga “menyimpan” perairan umum, baik itu sungai, danau, waduk, tambak maupun kolam yang cukup luas. Sebagaimana laut, perairan tawar maupun payau menyimpan potensi sumber daya alam yang tidak sedikit, yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan penduduk Indonesia. Sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk yang saat ini diperkirakan telah mencapai 210 juta jiwa (data thn 2000), meningkat pula kebutuhan pangan. Itu berarti luasnya laut dan perairan umum Indonesia merupakan “lumbung” pangan nasional yang setiap saat siap dimanfaatkan secara optimal.
Salah satu hasil laut dan perairan umum adalah ikan yang merupakan sumber daya hayati terbesar di perairan dan ikan juga merupakan penyediaan protein hewani sejak zaman dahulu. Dari sejak zaman dahulu ikan diperoleh dari hasil penangkapan, tapi seiring dengan perkembangan zaman mengakibatkan kegiatan yang bersifat penangkapan kini telah banyak menimbulkan masalah, mulai dari terjadinya overfishing hingga beberapa komoditas mengalami kepunahan (species extinction), juga terjadi penurunan pendapatan nelayan yang melakukan kegiatan tersebut dan akibat yang paling parah adalah terjadinya kehancuran ekosistem di beberapa wilayah.
Untuk itu salah satu pilihan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan mengembangkan usaha budidaya perikanan. Dan kini dengan berkembangnya teknologi budidaya, produksi ikan dapat ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan (protein) masyarakat dan dapat menambah devisa Negara, dengan catatan usaha budidaya ikan yang kita lakukan harus mempertimbangkan kelestarian alam.
Potensi yang besar dan prospek pengembangan yang begitu terbuka, bukanlah jaminan bahwa kegiatan budidaya ikan akan berjalan mulus, tanpa permasalahan. Kini telah banyak kendala yang dihadapi dari sector budidaya perikanan.
Masalah-masalah itu antara lain : rusaknya lingkungan hutan mangrove karena pembukaan lahan tambak yang membabi buta serta menurunnya daya dukung lahan. Khusus untuk beberapa jenis ikan tertentu, pasokan benih masih mengandalkan hasil penangkapan di alam, sehingga selain pasokan benih terbatas, penangkapan benih telah merusak habitat ikan.
Dan masalah yang dianggap paling sering menghambat kegiatan budidaya adalah munculnya serangan hama dan penyakit. Untuk itu SUPM Negeri Pariaman yang menyiapkan calon-calon teknisi yang handal perlu mempelajari hama dan penyakit yang telah dituangkan dalam silabus mata pelajaran Hama dan Penyakit. Di kelas I semester I dengan standar kompetensi mengidentifikasi jenis penyakit dan hama ikan, yang terbagi atas 2 kompetensi dasar, yaitu mengidentifikasi hama ikan dan mengidentifikasi penyakit ikan. Pada kompetensi dasar mengidentifikasi hama ikan dibagi atas pengelompokan atau klasifikasi jenis-jenis hama ikan, jenis-jenis predator, penyaing, perusak/pengganggu, faktor penyebab timbulnya hama ikan dan teknik pengendalian hama ikan. Untuk kompetensi dasar mengidentifikasi penyakit ikan terbagi atas, pengelompokan atau klasifikasi jenis-jenis penyakit ikan, penyakit pathogen dan non pathogen, gejala atau perilaku ikan sakit, faktor penyebab timbulnya penyakit, prinsip terjadinya infeksi penyakit, pengambilan sampel dan identifikasi HPI dan teknik pengendalian HPI.
B. PENGELOMPOKAN/KLASIFIKASI JENIS-JENIS HAMA IKAN
Serangan hama pada kegiatan budidaya ikan biasanya tidak separah serangan penyakit ikan, hama biasanya berukuran lebih besar dibandingkan ikan yang dibudidayakan. Hama adalah organisme yang dapat menimbulkan gangguan pada ikan yang dibudidayakan baik secara langsung maupun tidak langsung. Hama dikelompokkan ke dalam 3 jenis yaitu : hama pemangsa (predator), hama penyaing (competitor) dan hama perusak/pengganggu.
1. Hama Pemangsa (Predator)
Hama pemangsa atau predator adalah organisme yang dapat memangsa ikan budidaya. Sebagai pemangsa, hama ini memangsa ikan sebagai makanannya, hama pemangsa dapat berupa ikan, katak, ular, biawak, burung dan beberapa jenis insekta. Hama ini juga cenderung buas dan mempunyai ukuran yang lebih besar daripada ikan yang dimangsa. Hama ini sangat merugikan petani ikan karena mampu menghabiskan sebagian besar ikan peliharaan. Pada saat dilakukan pemanenan total biasanya para petani kolam atau petambak sering mendapatkan sejumlah ikan predator sebagai pengganti ikan peliharaan yang mati dimangsa predator tersebut.
Selain ikan, hama predator yang sering dijumpai di kolam, tambak atau KJA adalah katak, ular, burung dan beberapa insekta. Burung umumnya memangsa ikan yang memiliki warna yang cerah. Kolam dan tambak yang jarang dikontrol sering mengalami serangan ular atau biawak, sedangkan kolam atau tambak yang selalu dikontrol kecil kemungkinan terjadi serangan ular.
Sedangkan beberapa jenis insekta yang merupakan jenis pemangsa ikan dan cukup berbahaya antara lain Notonecta spp, Cybister spp, Belostoma indicus dan kini-kini. Insecta dari jenis Notonecta spp merupakan insect berbahaya karena sering merusak telur maupun benih ikan dengan cara mengisap cairan isinya, hama ini agak sulit diberantas karena pada malam hari selalu terbang dari satu kolam ke kolam lainnya untuk mencari mangsa.
Hama berupa larva Cybister spp, memiliki rahang yang kuat untuk menjepit tubuh ikan yang masih kecil, dengan enzim yang terdapat pada rahangnya insekta ini melarutkan isi tubuh ikan mangsanya sehingga menjadi mudah dihisap.
Sedangkan hama dari jenis Belostoma indicus merupakan organism yang buas yang memiliki tubuh relative besar yaitu sekitar 10 – 12 cm. insekta ini sering menyerang ikan – ikan kecil dan dengan alat yang dimilikinya, ia mengisap seluruh cairan tubuh mangsanya. Sama seperti Notonecta spp insekta ini juga agak sulit dikendalikan karena pada malam hari selalu terbang dari satu kolam ke kolam lainnya atau dari satu tambak ke tambak lainnya untuk mencari mangsa.
Kini kini merupakan larva capung (Odonata) yang sering menyerang ikan-ikan kecil yang dipelihara di kolam atau di tambak. Larva capung ini biasanya akan tinggal pada tumbuh-tumbuhan air untuk menanti mangsanya yang akan diserangnya. Ikan yang diserang akan mati karena cairan tubuhnya habis diserap/dihisap oleh kini kini.
2. Hama Penyaing (Kompetitor)
Hama penyaing atau competitor adalah hewan yang masuk ke dalam wadah budidaya dan bersifat menyaingi kehidupan ikan yang dibudidayakan. Persaingan tersebut dapat terjadi dalam mendapatkan pakan, jika hama tersebut memakan jenis pakan yang merupakan pakan utama bagi ikan budidaya. Persaingan juga dapat terjadi dalam hal ruang gerak, jika hama yang yang ada mencapai populasi yang besar, contohnya adalah ikan nila dan ikan mujair, sebab ikan ini dikenal sebagai ikan “tukang kawin” sehingga populasinya bertambah sangat cepat. Bentuk kompetisi lain adalah dalam hal memperoleh oksigen, apalagi jika dalam wadah budidaya sangat padat , terutama pada malam hari pada saat kandungan oksigen menurun.
Pada system budidaya intensif, pengaruh penyaing terhadap hewan utama yang dipelihara sangat kecil atau tidak ada sama sekali , akan tetapi dalam system pemeliharaan ekstensif hal ini sering dijumpai. Beberapa diantara competitor ini ada yang mampu bertahan hidup dalam kondisi yang sangat ekstrim , misalnya ikan nila (Oreochromis niloticus), ikan mujair (Oreochromis mosambica), lele (Clarias bathrachus), ikan gabus (Ophicephalus striata) atau jenis ikan lainnya yang mempunyai labirin. Ikan lele dan gabus juga bersifat predator. Organism competitor dapat menyebabkan ikan utama terganggu pertumbuhannya, tetapi jika terjadi kompetisi yang hebat seringkali ikan utama tidak mampu bertahan dan akhirnya mati.
3. Hama Perusak Wadah Budidaya dan Hama pengganggu
Hama perusak sarana adalah organism yang dapat menimbulkan kerusakan sarana budidaya, seperti kepiting yang menggali pematang kolam atau tambak, belut juga mampu menggali pematang kolam atau tambak. Ikan – ikan buas yang dapat merobek keramba jaring apung di laut.
Selain hama – hama tersebut diatas manusia juga termasuk hama apalagi jika manusia tersebut “bermetamorfosis” menjadi pencuri, pencuri termasuk hama pengganggu dan mendatangkan banyak kerugian bagi petani kolam, KJA maupun bagi petambak, sehingga keberadaannya sangat tidak dibutuhkan.
Ketiga kelompok atau klasifikasi hama tersebut diatas selain sebagai predator, penyaing dan perusak juga dapat membawa organism penyakit seperti virus, bakteri, parasit atau jamur. Ikan opeliharaan yang terluka akibat terserang pemangsa mudah stress dan bagian yang memar akan mudah atau terluka merupakan media yang potensial terjadinya serangan penyakit infeksi (akan dipelajari selanjutnya).
C. FAKTOR PENYEBAB TIMBULNYA HAMA
Hama yang pada dasarnya sangat tidak dibutuhkan dalam kegiatan budidaya dapat timbul karena lingkungan yang mendukung, dalam artian kondisi lingkungan yang tidak bersih seperti banyak rumput atau tumbuh-tumbuhan air yang dapat menjadi tempat bersarang atau tempat berlindung bagi hama.
Yang kedua proses persiapan lahan yang tidak sempurna sebagai contoh, pengeringan yang tidak berlangsung secara sempurna mengakibatkan masih banyak bibit – bibit hama yang terdapat di dalam wadah budidaya. Proses pemberantasan hama secara mekanis/manual tidak dapat mematikan semua hama yang ada di dalam wadah budidaya.
Yang ketiga adalah pintu masuknya air/inlet tidak dipasangi saringan sehingga hama masih bisa masuk ke dalam wadah budidaya. Dan yang terakhir adalah kondisi kualitas air yang sangat buruk bagi ikan utama yang dibudidayakan dan hama masih mampu hidup dalam kondisi yang ekstrem sekalipun. Yang utama harus kita perhatikan dalam hal ini adalah menjaga kondisi lingkungan dan kualitas air agar tetap optimum bagi kehidupan ikan yang dibudidayakan.
D. TEKNIK PENGENDALIAN HAMA IKAN
Untuk menanggulangi serangan hama lebih ditekankan pada system pengendalian hama terpadu, yaitu pemberantasan hama yang berhasil tetapi tidak mengakibatkan kerusakan ekosistem, termasuk hewan yang dibudidayakan, hewan ternak, manusia dan musuh alami yang mengkonsumsinya (hama). Dengan kata lain apabila masih ada cara lain yang dapat dilakukan dan ternyata memberikan hasil yang baik maka tidak perlu menggunakan obat-obatan, apalagi obat – obatan yang sifatnya anorganik. Pemberian obat – obatan yang sering menimbulkan masalah baru yang merugikan, misalnya terhadap bakteri nitrifikasi, terhadap pertumbuhan pakan alami atau menyebabkan lahirnya generasi penyakit yang tahan terhadap obat – obatan yang diberikan.
Oleh karena itu umumnya penanggulangan hama dilakukan secara mekanis atau fisik atau manual. Sebaiknya proses pemberantasan hama secara mekanis dilakukan sebelum penebaran benih, cara ini merupakan tindakan preventif (pencegahan), cara pencegahan model ini lebih menguntungkan karena tidak menimbulkan dampak yang merugikan pada lingkungan, mudah dan murah pelaksanaannya, tidak berpengaruh buruk pada usaha budidaya dan memberikan pengaruh yang cukup lama.
Tindakan pencegahan seperti menyiapkan kondisi kolam/tambak yang sempurna dengan pengolahan tanah yang baik, pengeringan yang memenuhi syarat, pengapuran dengan dosis yang sesuai dengan pH dan sifat tanah, mempertinggi peranan dan fungsi saluran, pintu air dan alat penyaringnya dalam kolam/tambak, akan memberikan andil yang sangat besar dalam usaha penanggulangan hama.
Apabila upaya pengendalian hama diatas belum memberikan hasil yang baik maka dilakukan upaya penanggulangan dengan mempergunakan pestisida alami (pestisida organic) secara langsung, yang bahan bakunya mudah diperoleh di sekeliling kita dan mudah diperoleh. Penggunaan obat – obatan an organic tidak dianjurkan sebab selain harganya yang relative mahal, daya racunnya dapat bertahan lama. Sehingga dikhawatirkan akan masuk ke dalam tubuh ikan baik secara langsung maupun tidak langsung melalui pakan alami, sehingga dapat mengganggu konsumen (manusia) baik cepat maupun lambat. Berikut ini adalah jenis – jenis pestisida organic yaitu Akar tuba (rotenon), tembakau (nicotine), biji teh (saponin). Jenis-jenis pestisida anorganik yaitu brestan-60, Chemfish 5 EC, Sodium Pentachlorphenate (PCA-NA) dll.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar